Aku dan Jumi

Aku bertemu Juminten di karnival yang riuh dengan lampu warna-warni dan musik yang terlalu keras untuk percakapan sederhana. Entah kenapa, di tengah keramaian itu, hanya tawanya yang kuingat. Dari obrolan remeh, janji kopi, sampai kencan yang semakin sering, kami jatuh cinta perlahan, seperti hujan yang baru terasa dinginnya setelah lama turun.

Suatu malam, Juminten bercerita selalu ada pria berambut hitam yang mengikutinya. Di halte, di lorong mall, di ujung jalan. Aku menganggap itu hanya rasa cemas. Sampai suatu sore di mall Taman Anggrek, di sudut-sudut toko perkakas aku melihatnya. Seorang pria berdiri jauh di sana, mata tajamnya tidak pernah lepas dari kami.

Beberapa bulan kemudian, kami menikah dan pindah ke rumah sepi dekat pedesaan. Kami berharap memulai hidup baru, jauh dari bayangan itu. Tapi suatu sore. saat Juminten pergi bersama temannya, aku melihat sosok itu lagi. Di halaman rumah kami.

Tangannya menggenggam sesuatu yang berkilau terkena cahaya senja. Sebuah pisau dapur.

Jantungku seakan berhenti. Dunia terasa mengecil, hanya menyisakan suara napasku sendiri dan bayangan pria itu yang bergerak ke arah pintu belakang.

Dengan jantung yang nyaris meledak, aku berdiri membeku di balik pintu belakang. Begitu dia masuk, tangan ini bergerak refleks. Obeng itu menancap di lehernya. Tubuhnya langsung lunglai, tanpa sempat mengeluarkan suara.

Tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa malam itu aku akan merenggut nyawa seseorang.

dalam kepanikan aku menyeret jasad nya keluar rumah dan membuangnya ke hutan terdekat, berharap gelap bisa menelan semua jejak.

dua minggu telah berlalu, Juminten tidak tahu apapun, Tapi setiap kali aku memejamkan mata, wajah itu selalu muncul, seolah berdiri tepat diantara gelap dan mimpiku.