Tentang Apa yang Terjadi (dan Mengapa Aku Menulis Ini)
Aku menulis ini bukan untuk mencari simpati, dan bukan juga untuk menantang siapa pun. Aku menulis karena diam akan membuat orang-orang yang tidak ada di tempat kejadian mengisi kekosongan dengan asumsi mereka sendiri. Aku tidak ingin cerita ini dibentuk oleh potongan-potongan yang diambil tanpa konteks.
Aku manusia biasa. Aku panik. Aku takut. Tapi aku tidak datang dengan niat membunuh siapa pun.
Aku mengenal Barats. Dia memiliki obsesi terhadap istriku yang tidak pernah bisa ia lepaskan. Bahkan setelah kami menikah, dia masih sering menguntit kami. Ada ketegangan yang makin hari makin terasa berbahaya—bukan sekadar jarak emosional biasa.
Pertemuan itu tidak pernah kuharapkan terjadi. Dia datang tanpa pemberitahuan, dalam kondisi yang jelas-jelas tidak stabil. Aku melihatnya dari mata dan caranya bicara—ini bukan orang yang datang untuk diskusi tenang. Yang terjadi setelahnya berlangsung sangat cepat dan di luar kendaliku. Dia yang memulai. Aku tidak menyerang lebih dulu. Aku hanya berusaha mempertahankan diri dari seseorang yang jelas-jelas datang dengan niat buruk.
Aku tidak meminta siapa pun percaya pada kata-kataku saja. Karena itu aku menyertakan rekaman yang merekam kejadian tersebut.
Rekaman itu menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di detik-detik awal. Kamu bisa lihat sendiri: Barats datang membawa sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata, kondisi emosionalnya tidak terkendali, dan dia yang memulai kontak fisik pertama. Aku sadar satu video tidak bisa menjelaskan seluruh emosi, tapi ia cukup jujur untuk menunjukkan bahwa ini bukan pembunuhan—ini adalah pertahanan diri terhadap seseorang yang datang untuk mencelakaiku.
Setelah kejadian itu, aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku panik. Aku tidak berpikir jernih. Aku tahu sekarang bahwa apa yang kulakukan setelahnya adalah kesalahan besar.
Aku membuang tubuhnya.
Aku menghapus rekaman dari perangkat aslinya.
Aku melakukan itu bukan karena aku merasa bersalah atas kematian yang terjadi, tapi karena aku takut. Takut satu momen yang tidak pernah kurencanakan akan menghapus seluruh hidup yang sudah kubangun. Dalam ketakutan itu, aku memilih jalan yang salah.
Aku tetap menyimpan salinan rekaman tersebut dan mengunggahnya ke Google Drive karena aku tahu suatu hari kebenaran harus bisa dilihat. Aku tidak percaya pada proses yang hanya mendengar versi yang paling cepat dan paling rapi disusun. Jika aku memang harus dinilai, aku ingin dinilai berdasarkan apa yang benar-benar terjadi, bukan berdasarkan cerita yang dipotong untuk kepentingan tertentu.
Aku tidak menulis ini untuk membersihkan namaku sepenuhnya. Aku sadar aku harus bertanggung jawab atas kepanikan dan keputusan-keputusan bodoh yang kuambil setelahnya. Aku siap menghadapi konsekuensinya.
Tapi aku tidak bisa menerima disebut pembunuh atas sesuatu yang tidak pernah kurencanakan dan tidak pernah kuinginkan. Ada perbedaan besar antara bertahan hidup dan berniat menghilangkan nyawa seseorang. Perbedaan itu penting, dan aku berharap siapa pun yang membaca ini mau melihatnya dengan kepala dingin.
Aku tidak akan menambahkan apa pun lagi. Rekaman itu berbicara sendiri. Sisanya, biarlah dinilai oleh mereka yang berwenang.